Oleh Anagreth Rosalia Eluay

Seorang mama adat sibuk membungkus papeda menggunakan daun hijau di sudut kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Pekerjaannya sederhana, namun menyimpan pengetahuan adat yang luhur.

Masyarakat Adat Sentani menyebut makanan ini : Finukhu atau papeda bungkus. Bukan sekadar makanan pengganjal lapar, Finukhu merupakan bagian dari identitas budaya yang telah hidup bersama Masyarakat Adat sejak zaman nenek moyang.

Dinche Felle, mama adat dari Sentani, menerangkan papeda dibungkus menggunakan daun khusus bernama Fotefea. Daun Fotefea ini sering dipakai untuk menjadi model di kegiatan festival budaya Papua. Daun ini ditanam dan dijaga sendiri oleh Masyarakat Adat karena memiliki fungsi penting dalam proses penyimpanan makanan. Setelah dibungkus daun Fotefea, papeda akan menjadi dingin dan dapat bertahan selama beberapa hari.

”Di balik proses sederhana ini terdapat pengetahuan lokal yang lahir dari hubungan panjang antara manusia dan alam yang mereka jaga,” kata Dinche disela kesibukannya membungkus papeda di rumahnya pada 5 Juni 2026.

Dinche mengatakan kemampuan membuat Finukhu tidak dimiliki oleh semua orang. Sebab, dibutuhkan ketelitian, kesabaran, serta pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.

”Ada cara dan pengetahuan yang harus dipelajari. Disinilah, pentingnya anak-anak muda harus belajar supaya tradisi ini tidak hilang,” ujarnya.

Dinche menyebut bagi Masyarakat Adat Sentani, sagu dan papeda bukan sekadar sumber makanan. Sagu adalah simbol kehidupan. Dari hutan sagu, masyarakat memperoleh pangan, pengetahuan, serta nilai-nilai kebersamaan yang menjadi dasar kehidupan adat. Karena itu, imbuhnya, menjaga makanan tradisional seperti sagu dan papeda berarti juga menjaga jati diri Masyarakat Adat itu sendiri. Namun saat ini, akunya, keberadaan Finukhu mulai menghadapi tantangan.

”Makanan cepat saji yang semakin mudah dijangkau perlahan mengubah pola konsumsi generasi muda. Banyak anak muda yang lebih memilih makanan instan dibandingkan makanan lokal yang membutuhkan proses panjang dalam pengolahannya,” ungkapnya.

Daun Fotefea. Dokumentasi AMAN

Bukti Leluhur Sentani Memiliki Kearifan Lokal

Carol Victorya Ibo, perempuan adat dari kampung Sereh mengaku pernah merasakan perubahan kebiasaan tersebut. Perempuan adat yang akrab disapa Elo ini menyadari bahwa kemudahan mendapatkan makanan instan tanpa disadari membuat dirinya semakin jauh dari makanan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Masyarakat Adat.

Ia menyadari bahwa makanan cepat saji membuatnya terbiasa dengan segala sesuatu yang instan. Padahal, papeda bungkus mengajarkan kita tentang proses, kesabaran, dan kerja keras sejak mengambil sagu hingga menjadi makanan yang siap dimakan.

Elo menerangkan Finukhu adalah bukti bahwa leluhur Sentani telah memiliki pengetahuan yang luar biasa dalam mengelola pangan lokal. Papeda bungkus bahkan mampu bertahan selama beberapa hari tanpa bahan pengawet dan tetap aman untuk dikonsumsi. Lebih dari itu, imbuhnya, Finukhu menjadi pengingat bahwa Masyarakat Adat Sentani memiliki kearifan lokal dalam memenuhi kebutuhan hidup dari alam yang mereka jaga.

”Karena itu, hilangnya kebiasaan mengonsumsi pangan lokal bukan hanya kehilangan sebuah makanan, tetapi juga kehilangan sebagian identitas budaya,” ujarnya.

Elo menyatakan di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Masyarakat Adat Sentani diingatkan untuk tetap menjaga warisan leluhur yang telah dititipkan kepada generasi sekarang. Disebutnya, Finukhu bukan sekadar papeda yang dibungkus daun.

Finukhu adalah simbol hubungan antara manusia, alam, dan adat yang telah menjaga kehidupan Masyarakat Adat Sentani selama berabad-abad,” jelasnya.

Elo menambahkan jika generasi muda berhenti mengenal dan mengonsumsi pangan lokalnya sendiri, maka perlahan mereka akan kehilangan jejak pengetahuan yang diwariskan leluhur.

”Karena itu, menjaga Finukhu berarti menjaga adat, menjaga identitas, dan menjaga masa depan budaya Sentani agar tetap hidup di tanah yang telah diwariskan oleh para leluhur,” tutupnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua

Writer : Anagreth Rosalia Eluay | Jayapura, Papua
Tag : Jayapura Sentani Finukhu Warisan Leluhur