Oleh Arnol Prima Burara

Kelompok Usaha Milik Masyarakat Adat (KUMA) Mesa Indo'na di wilayah adat Bau, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan mulai membangun kemandirian ekonomi Masyarakat Adat dengan mengembangkan ternak babi yang berasal dari dukungan Dana Nusantara.

Program peternakan babi yang dimulai pada pertengahan 2025 kini berkembang pesat dan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan usaha Masyarakat Adat yang bertumpu pada nilai kebersamaan dan sistem bagi hasil.

Ketua KUMA Mesa Indo'na, Bartholomeuz Patola menjelaskan perjalanan KUMA Mesa Indo’na dimulai dari dukungan Dana Nusantara yang memberikan bantuan 10 ekor babi, terdiri dari sembilan ekor babi betina dan satu ekor pejantan. Bantuan ini tidak dikelola secara terpusat, melainkan didistribusikan kepada Masyarakat Adat di beberapa kampung yang ada di wilayah adat Bau. Bartholomeuz menambahkan pendistribusian bantuan babi ini dilakukan melalui mekanisme perguliran, setiap indukan yang melahirkan anak akan menghasilkan manfaat bagi penerima berikutnya.

”Anak babi yang lahir dibagi dengan sistem 50 persen untuk penerima dan 50 persen dikembalikan kepada KUMA sebagai modal bergulir bagi Masyarakat Adat lainnya,” terang Bartholomeuz pekan lalu.

Disebutnya, sistem yang dijalankan ini terbukti efektif. Dalam waktu kurang dari satu tahun, populasi ternak babi berkembang dari 10 ekor, kini menjadi 40 ekor.

”Hingga kini, sedikitnya 20 orang telah menerima manfaat langsung dari program ini,” imbuhnya.

Bartholomeuz menyatakan jumlah penerima manfaat diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi ternak. Menurutnya, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pengelolaan usaha yang mengedepankan prinsip gotong royong, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama mampu memperkuat ekonomi Masyarakat Adat tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah diwariskan leluhur.

Bartholomeuz mengakui peternakan babi yang dikelola KUMA Mesa Indo’na saat ini cukup pesat perkembangannya. Hal ini menjadi penyemangat bagi pengurus untuk terus memperluas manfaat bagi masyarakat. Dikatakannya, meskipun hasil yang dicapai sudah cukup baik, namun masih banyak hal yang perlu diperbaiki agar tujuan bersama dapat terwujud.

"Saat ini peternakan babi yang kami kelola sudah berkembang cukup baik, meskipun masih belum maksimal. Sebagai pengurus KUMA, kami akan terus berupaya meningkatkan pengelolaannya agar hasilnya semakin baik,” katanya sembari berharap suatu saat nanti setiap rumah tangga di wilayah adat Bau dapat merasakan manfaat dari program ini.

Bartholomeuz menerangkan setelah program ini, pihaknya berencana akan mengembangkan usaha di bidang pertanian.

Sejumlah ekor babi yang dikembangbiakkan oleh KUMA Mesa Indo'na di Tana Toraja. Dokumentasi AMAN

Manfaat Kehadiran KUMA di Wilayah Adat

Ketua Masyarakat Adat Bau Maksi Balalembang menerangkan program peternakan babi yang dijalankan KUMA Mesa Indo'na sudah terbukti memberikan manfaat bagi Masyarakat Adat. Maksi mengatakan program ini sangat tepat karena menjawab kebutuhan Masyarakat Adat yang sempat menghadapi krisis ketersediaan babi akibat merebaknya penyakit babi di Tana Toraja beberapa tahun lalu.

"Kami bersyukur atas kehadiran KUMA di wilayah adat Bau. Kelahirannya sangat tepat saat kita mengalami kekurangan stok babi akibat wabah penyakit yang melanda Toraja,” sebutnya.

Maksi mengakui dari kondisi ini, mereka meminta dukungan kepada AMAN Toraya agar masyarakat memperoleh bantuan ternak babi untuk meringankan beban hidup mereka. Ia bersyukur, hasilnya sudah bisa dirasakan oleh Masyarakat Adat.

”Kami berharap program ini terus berkembang sehingga semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat dan ekonomi Masyarakat Adat menjadi semakin kuat," ujarnya.

Maksi mengatakan keberhasilan KUMA Mesa Indo'na ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Masyarakat Adat tidak selalu bergantung pada investasi berskala besar. Disebutnya, dengan dukungan yang tepat, sistem pengelolaan yang transparan, serta semangat gotong royong yang berakar pada nilai-nilai adat, masyarakat mampu membangun usaha yang berkelanjutan.

”Peternakan yang dimulai dari sepuluh ekor babi, kini bukan sekadar bertambah jumlah ternaknya, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya kemandirian ekonomi dan solidaritas di wilayah adat Bau,” tutupnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Writer : Arnol Prima Burara | Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Tag : KUMA Mesa Indo'na Ekonomi Masyarakat Adat Tana Toraja