Pesta Adat Yimnawai: Merawat Tradisi, Mempersiapkan Generasi Muda Suku Daiget
23 Oktober 2026 Berita Harun RumbararOleh Harun Rumbarar
Pesta adat Yimnawai bukan sekadar perayaan tradisi bagi Masyarakat Adat Suku Daiget di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua. Di dalamnya berlangsung proses pewarisan pengetahuan leluhur, penguatan hubungan antarkampung, serta inisiasi pendewasaan anak muda agar memahami nilai dan aturan adat.
Bagi Suku Daiget, Yimnawai merupakan sosok yang berkaitan erat dengan leluhur dan dimaknai sebagai simbol perdamaian. Kehadirannya menandai pembukaan pesta adat, diiringi tiupan Yii, alat musik menyerupai terompet yang terbuat dari kayu, serta tarian di halaman rumah adat.
“Jadi nanti kami akan meniup Yii untuk memanggil para leluhur dan mereka akan dansa di halaman rumah adat ini. Yang menjadi tanda pembukaan itu saat kehadiran Yimnawai pada pertama kali,” kata Ciprianus Tagiet, tuan pesta adat di Kampung Dunumamoi baru-baru ini.
Ciprianus menjelaskan tradisi ini diwariskan turun-temurun dan masih dipertahankan oleh Masyarakat Adat di delapan kampung yakni Dunumamoi, Workwana, Swayatami, Wambes, Bagia, Kwimi, Bate, dan Ubiyau Nawa. Dari delapan kampung tersebut, yang masih terdapat rumah adat hanya di Dunumamoi, Workwana, dan Swayatami. Ketiga rumah adat tersebut menjadi tempat pelaksanaan pesta adat yang kerap dihadiri Masyarakat Adat dari kampung lainnya.
Ciprianus menerangkan rangkaian pesta adat mencakup makan bersama dan pertunjukan tarian yang berlangsung sejak dini hari hingga sore. Sebagian prosesi terbuka untuk masyarakat, sementara kegiatan tertentu, terutama inisiasi pendewasaan anak muda, dilaksanakan secara khusus di rumah adat.
”Pesta adat ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan Masyarakat Adat antarkampung sekaligus mempertahankan kepercayaan dan tradisi yang diwariskan leluhur,” ujarnya.
Membentuk Generasi Penerus Adat
Salah satu bagian penting dalam pesta adat Yimnawai adalah proses inisiasi atau pendewasaan anak muda. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi generasi penerus untuk memahami kedisiplinan, tata krama, aturan adat, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan hubungan sosial di komunitas.
Ketua panitia pesta adat kampung Dunumamoi, Franky Borotian menjelaskan proses pendewasaan anak muda tersebut bertujuan membentuk anak muda agar memahami dan menaati aturan adat serta mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
“Prosesi ini bertujuan membina anak-anak muda kita agar bisa menjadi pemuda adat yang tunduk dan taat pada aturan adat, dan juga bisa menerapkannya di kampung saat menjalani kehidupan sosial dengan siapa saja,” ujar Franky pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Selama menjalani inisiasi di rumah adat, para peserta tidak hanya mempelajari nilai-nilai leluhur, tetapi juga dilatih menjalani kehidupan secara disiplin dan bertanggung jawab. Mereka dibiasakan bangun pagi, menjaga kebersihan, serta makan bersama dengan tertib.
Franky menerangkan selama berlangsungnya prosesi ini, peserta juga diajarkan membuat busur dan anak panah, berburu, serta bertahan hidup di hutan. Disebutkan, pengetahuan tersebut merupakan bagian dari keterampilan yang diwariskan antargenerasi dan berkaitan langsung dengan kehidupan Masyarakat Adat.
“Anak-anak yang kita didik di rumah adat itu akan belajar banyak hal, seperti melatih kedisiplinan, tata krama, cara bertahan hidup di hutan, cara berburu, dan nilai-nilai leluhur yang sampai hari ini masih kami rawat,” katanya.
Persiapan inisiasi pun dimulai sebelum peserta memasuki rumah adat. Mereka harus menyiapkan kebun dan mengumpulkan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan selama menjalani proses pendewasaan yang dapat berlangsung satu hingga dua bulan, bergantung pada persediaan pangan dan kesiapan masyarakat.
”Ini dilakukan agar istri atau ibu kandung mereka fokus mengolah makanan dan mengirimkannya untuk mereka,” jelas Franky.
Menurutnya, persiapan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran tanggung jawab. Para peserta dilatih memastikan kebutuhan pangan dan bahan bakar tersedia, sehingga keluarga tidak harus meninggalkan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan mereka selama berada di rumah adat.
”Tradisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan adat tidak hanya berlangsung melalui nasihat atau cerita. Pengetahuan diturunkan melalui praktik langsung, kedisiplinan, kerja, dan keterlibatan dalam kehidupan komunitas,” ungkapnya.

Perayaan pesta adat Yimnawai di kampung Workwana. Dokumentasi AMAN
Menjaga Tradisi
Pesta adat Yimnawai tidak memiliki jadwal tetap seperti perayaan pada umumnya. Pelaksanaannya mengikuti kalender musim dan bergantung pada kesiapan Masyarakat Adat, termasuk ketersediaan pangan, hasil kebun, serta kebutuhan berburu dan kayu bakar.
Di kampung Dunumamoi, pesta adat Yimnawai terakhir kali dilaksanakan pada 2010, kemudian berlanjut pada 2026. Di kampung Workwana pesta adat terakhir dilaksanakan pada 2008, lalu dilaksanakan berturut-turut pada 2018 dan 2022. Sementara di kampung Swayatami, pesta adat Yimnawai terakhir dilaksanakan pada awal 2025 dan setahun kemudian dilaksanakan pada Januari 2026.
Mantan Ketua Dewan Adat Keerom, Servo Tuamis menerangkan lamanya rentang waktu pelaksanaan pesta adat Yimnawai ini menunjukkan bahwa keberlangsungan tradisi ini sangat bergantung pada hubungan Masyarakat Adat dengan tanah dan hutan.
”Hutan bukan hanya sumber pangan dan bahan kebutuhan pesta, melainkan juga ruang belajar bagi anak muda untuk mengenal keterampilan hidup yang diwariskan leluhur,” ujarnya.
Servo menyatakan ruang hutan yang dapat dimanfaatkan Masyarakat Adat untuk menggelar pesat adat ini semakin terbatas. Ia menyebut sebagian kawasan yang sebelumnya menjadi bagian dari ruang hidup Masyarakat Adat telah dikuasai perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa dan PT Tandan Sawita Papua.
”Saat ini, luas kawasan hutan yang masih digunakan Masyarakat Adat untuk berburu dan memenuhi kebutuhan pesta adat tersisa kurang dari 12.000 hektare,” ungkap Servo.
Servo menambahkan kondisi ini memperlihatkan keberlanjutan pesta adat Yimnawai tidak dapat dipisahkan dari perlindungan wilayah adat. Ketika akses terhadap hutan menyempit, masyarakat tidak hanya menghadapi keterbatasan sumber pangan dan bahan kebutuhan pesta, tetapi juga kehilangan ruang penting untuk mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
“Kami telah kehilangan hak hidup di atas tanah sendiri,” sebutnya.
Bagi Suku Daiget, kata Servo, mempertahankan Yimnawai berarti menjaga hubungan antarkampung, merawat kepercayaan leluhur, dan memastikan anak muda memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari Masyarakat Adat.
Melalui inisiasi pendewasaan, pengetahuan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia terus dipraktikkan dan diwariskan agar generasi muda mampu menjaga kehidupan komunitas, menaati aturan adat, serta meneruskan tradisi di tengah perubahan zaman. Karena itu, keberlangsungan pesta adat Yimnawai membutuhkan pengakuan dan perlindungan terhadap wilayah adat sebagai ruang hidup, sumber penghidupan, dan tempat berlangsungnya pendidikan adat lintas generasi. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Keerom, Papua