Oleh Debora Rambu Kasuatu

“Napa da Tikung Ngara, Napa da Tikung Tamu”. Bait adat ini mengandung makna tidak boleh menyebut sesuatu (nama) sembarangan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Bait adat ini cukup populer di masa leluhur Umbu Pabal. Konon, menurut sejarah Umbu Pabal orang sakti yang disembah sebagai Kepercayaan Merapu.

Seiring perjalanan waktu, Umbu Pabal telah ditabalkan menjadi nama sebuah komunitas yang berada di kampung adat Deri Kambajawa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah,  Nusa Tenggara Timur.  Wilayah adatnya memiliki lanskap dataran rendah yang cocok untuk beternak, berkebun dan bersawah.

Luas wilayah adat komunitas adat Umbu Pabal sekitar 8700m2, terdiri dari empat desa yakni Desa Umbu Mamijuk, Desa Umbu Jodu, Desa Umbu Pabal Selatan dan Desa Umbu Pabal.  Akses menuju komunitas ini bisa menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh sekira 5 km dari pusat kota Waibakul.

Komunitas Umbu Pabal dikenal sebagai Masyarakat Adat yang memiliki budaya suka berpindah-pindah tempat tinggal. Namun, perpindahan yang mereka lakukan masih dalam wilayah adat dan tidak sampai masuk ke wilayah adat marga lain.

Di komunitas ini, sejak dulu leluhur sudah mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan atau Kekuatan Yang Maha Kuasa yang disebut Marapu “Umbu Pabal”.  Buktinya, Masyarakat Adat di komunitas ini kerap melakukan ritual adat Purung Taliangu Marapu di hutan adat Liangu Marapu (Gua Marapu/Gua Keramat) yang dilakukan setiap bulan September setiap tahunnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat komunitas adat Umbu Pabal  menggunakan Bahasa indonesia dan bahasa Manggena.

Manggena merupakan ciri khusus tentang orang yang memiliki perasaan sensitif dalam berbicara (halus dan tidak kasar) dan begitu juga dalam bertindak.

Asal usul Komunitas Adat Umbu Pabal

Menurut sejarah, asal-usul Umbu Pabal berasal dari India. Mereka masuk ke pulau Sumba dengan menggunakan perahu melalui Selat  Malaka.

Setelah tiba di Tanjung Sasar, mereka menuju ke Modu Bakul Kaboru Walla (desa Mondu).  Dari desa Mondu mereka pergi ke Praingu Nappu. Ditempat ini, mereka membuat perkampungan. Setelah menetap beberapa lama di kampung, mereka berpindah  ke Paraingu Wunga. Kemudian, mereka membuat kampung lagi disini.

Setelah cukup lama menetap di kampung Wunga, karena kondisi wilayah ini tidak memungkinkan untuk menanam tanaman pangan, sulit mendapat air minum, Umbu Pabal beserta saudaranya berpindah ke Lenang dan membentuk kampung yang namanya Paridi.

Menurut cerita, di kampung Paridi ini seluruh suku di Sumba berkumpul dan bermusyawarah sambil potong kerbau  untuk mencari tempat yang cocok untuk bisa bertani.  Seluruh nenek moyang orang Sumba membagi diri untuk menyebar ke Mamboro,Tanarighu, Loli, Wanukaka, Palla, Waiwewa, Laura, Lewa, sampai Sumba Timur juga ada yang menetap di Lenang yakni Umbu Ratu Gawi.

Umbu Pabal membuat perjanjian dengan Umbu Ratu Gawu agar Umbu Ratu Gawu tetap  tinggal di kampung Paridi. Sementara,  Umbu Pabal mencari tempat lain yang cocok untuk bertani.

Umbu Pabal menemukan tempat di puncak Gunung Tana Daru Uta Moru. Tanah Daru artinya tanah yang dibagi-bagikan kepada seluruh Kabihu, sedangkan Uta Moru artinya tanah yang makmur dan hijau.

Di puncak Tana Daru ini, Umbu Pabal membentuk kampung yang namanya Ta Kacicu Ta Culur (baitan adatnya: culur madedah, culur katilubuangu, apu  maragi rara).

Ta Kacicu dulunya merupakan kampung  lama sekarang sudah menjadi hutan, sedangkan Ta Culur  merupakan padang dan bukit, yang sekarang menjadi Taman Nasional. Disini, mereka membentuk kampung yang namanya Praikangali.  Cukup lama mereka menetap di tempat ini.

Di kampung Praikangali, mereka membuat kebun sekaligus mendirikan tempat ritual Katoda, antara lain: Ta Korak, Ta Golu Ahar, Ta Pangadu Jongu, Ta Irung, Ta Kopa.  Semua tempat-tempat ini sekarang masuk dalam wilayah Taman Nasional (TN).

Selain berkebun, Umbu Pabal juga membuat sawah di kampung Praikangali yakni Pabang Ke, Pabang Bakul, Luruh Ke, Luruh  Bakul. Kemudian, mereka berpindah ke kampung Ubbu Magawu (Magawu Rara Mata, Kawawu Ana Meha) yang artinya tempat di mana Umbu Pabal menjemur  ikat kepalanya yang berwarna merah  di pohon bambu. 

Dalam perkembangannya,  manusia yang bercocok tanam terus bertambah di Sumba hingga masuknya penjajah Belanda di negeri ini.  Umbu Pabal membentuk  kampung yang diberi nama:  Deri Kambajawa.  Disinilah mereka menetap hingga saat sekarang ini. Jauh sebelum masa perang dunia pertama, komunitas Umbu Pabal  sudah mendiami wilayah adat marganya secara turun temurun dan mempertahankannya sampai sekarang.

Silsilah Umbu Pabal

Silsilah Umbu Pabal yang mendiami wilayah adat menurut garis keturunan sebagai berikut: generasi pertama  Umbu Pabal.

Generaisi kedua Umbu Pati Ganak yang sekarang menjadi Kabihu Awanang,  Umbu Maka Wawu sekarang menjadi Kabihu Deri, Umbu Maluwa yang sekarang menjadi Kabihu Ranyiaka, Umbu Makamodu yang sekarang menjadi Kabihu Tokang  dan Rambu Danga yang sekarang menjadi Kabihu Lagu. 

Generasi ketiga anak dari Umbu Pati Ganak, anak dari  Umbu Makamodu (Uma Majaga):  yang pertama Reku Tibi, Togu Lawang Pajaga Tagu Hoba, Joru Mana Nam Pareng, Habar Manang Pareng Ling.  Generasi keempat anak dari Reku Tibi: Taka Dewa.

***

Penulis adalah Ketua PH AMAN Sumba