Oleh Fujianti Nurjanah

Sekolah Adat Kampung Dukuh di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat mengembangkan budidaya ikan bawal air tawar.

Pengembangan budidaya ikan bawal air tawar ini sudah dilakukan oleh para siswa sekolah adat Kampung Dukuh sejak 2023 sebagai bentuk usaha agar bisa mencapai kemandirian ekonomi.

Zaskia Mutiara, salah seorang siswi sekolah adat Kampung Dukuh mengatakan ikan bawal air tawar yang dikembangkan ini dikelola menjadi bisnis ikan asap. Disebutkan, usaha pengelolaan bisnis ikan bawal asap ini dijalankan oleh 7 orang siswa sekolah adat. Sementara, 18 orang siswa lainnya terlibat dalam pembelajaran proses produksi dan pengolahan ikan. Zaskia mengaku senang bisa ikut terlibat dalam pengolahan ikan bawal asap ini.

“Senang, ramai. Selain belajar mengenai ilmu dari leluhur, kita juga bisa mengetahui pengolahan ikan dari alam kita sendiri,” ungkap Zaskia Mutiara belum lama ini.

Kepala sekolah adat Kampung Dukuh, Sepri Hidayat mengaku telah merintis budidaya ikan bawal asap sebagai bentuk usaha mandiri sejak tahun 2023. Namun, usahanya sempat terhenti karena terkendala modal. Dua tahun kemudian, sebut Sepri, usaha ini beroperasi kembali pada  Juni 2025 setelah adanya bantuan pendanaan untuk sekolah adat dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melalui Nusantara Fund.

“Usaha ini sempat berjalan normal lagi tahun 2025. Setelah itu, tidak ada penjualan sama sekali karena peminatnya sedikit, di wilayah ini relatif tidak suka dengan aroma asap,” ungkap Sepri.

Sepri mengatakan awalnya, ide budidaya ikan bawal asap ini dari beberapa orang yang kurang suka dengan bau tanah dari ikan bawal setelah digoreng. Dari situ, lanjutnya, muncul ide untuk mengubah bau tanah dengan asap yang didapatkan dari proses pengasapan. Selain menghilangkan bau tanah, sebutnya, proses pengasapan ini juga bisa menjadi pengawet alami untuk ikan.

Awal na mah bawal na meser, tapi kadieunakeun mah ternak,” terangnya dalam bahasa Sunda yang berarti awalnya ikan bawal beli, tapi makin kesini jadi ternak (sendiri).

Proses Pembuatan Ikan Bawal Asap

Sepri menjelaskan proses pembuatannya diawali dengan membersihkan ikan bawal, insangnya dibuang dan di rendam dengan air garam. Selanjutnya, ikan yang sudah di rendam dimasukan ke dalam tungku pembakaran yang sudah di panaskan. Bahan bakar yang digunakan serabut kelapa agar aroma asapnya lebih menyengat. Panggang ikan selama 8 jam dalam suhu 60°C sambil di bolak balik. Barulah setelah itu, ikan bisa dinikmati dengan tambahan lain seperti sambal jahe. Seluruh proses pengolahan ikan bawal menjadi ikan bawal asap dilakukan bersama-sama di dapur produksi.

Sepri mengatakan mengingat kendala dari pengembangan usaha ini adalah belum memiliki mitra yang tetap dan kurangnya minat terhadap ikan berbau asap, dirinya berencana membuat usaha ikan segar sebagai opsi lain dari budidaya ikan bawal asap.

“Karena belum ada hasil yang terlihat untuk sekolah adat, saya berpikir ulang untuk lebih fokus pada pengelolaan ikan segar,” ujarnya.

Seorang pria menunjukkan satu ekor ikan bawal air tawar yang baru di tangkap dari kolam. Dokumentasi AMAN

Bisa Berkembang Karena Unik

Yayan Hermawan, tokoh adat Kampung Dukuh, memilki kepercayaan yang cukup tinggi terhadap pengembangan usaha yang dilakukan oleh anak-anak sekolah adat. Yayan menyatakan jangan putus asa jika sekarang belum terlihat hasilnya. Tapi, Yayan yakin usaha budidaya ikan bawal yang dikelola oleh anak-anak sekolah adat ini akan berkembang pada masanya.

“Sekarang itu masih berproses, namanya usaha coba lagi…coba lagi. Tapi yakin ini bisa berkembang karena unik,” katanya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Simahiyang, Jawa Barat

Writer : Fujianti Nurjanah | Simahiyang, Jawa Barat
Tag : Sekolah Adat Budidaya Ikan Kampung Dukuh