Oleh Umbu Ch Nusa Mesa

Masyarakat Adat Bodomaroto berkumpul di desa Kalimbukuni, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Mereka membawa tali tambang dan perlengkapan adat untuk menarik batu berukuran besar yang berada di bawah kampung, butuh waktu berjam-jam untuk menarik batu sampai ke atas kampung adat Bodomaroto.

Tradisi leluhur Masyarakat Adat Bodomaroto ini mencuri perhatian wisatawan karena melibatkan ratusan orang yang secara bergotong royong memindahkan batu besar untuk pembangunan makam adat megalitik. Tradisi yang disertai iringan irama gong tradisional membuat suasana jalannya prosesi adat tarik batu semakin semarak. Banyak pengunjung wisatawan yang mengabadikan momen ini meski acaranya berlangsung di tengah terik matahari.

Ama Lali selaku tetua adat menjelaskan tradisi tarik batu bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan bentuk penghormatan terakhir kepada leluhur dan simbol persatuan dari Masyarakat Adat Sumba. Dalam tradisi itu, sebutnya, setiap keluarga ikut mengambil bagian sebagai tanda dukungan terhadap keluarga yang sedang menyelenggarakan upacara adat.

“Adat ini mengajarkan bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama,” kata Ama Lali usai memimpin ritual tarik batu di pertengahan bulan Mei 2026 lalu.

Ama Lali menerangkan selain menjadi tradisi sakral, tarik batu juga telah menjadi agenda pariwisata yang sukses mencuri perhatian wisatawan untuk datang menyaksikan secara langsung budaya megalitik khas Sumba yang masih bertahan hingga sekarang.

Simbol Solidaritas

Ama Natan, salah seorang anggota keluarga yang ikut menarik batu, mengatakan proses pemindahan batu kubur adat tidak dapat dilakukan sembarangan. Sebelum batu ditarik, keluarga besar terlebih dahulu mengadakan musyawarah adat untuk menentukan hari baik pelaksanaan prosesi.

“Penentuan waktu dianggap penting karena Masyarakat Adat Sumba masih memegang kuat kepercayaan leluhur dan nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun,” tuturnya.

Natan menjelaskan saat berlangsung pelaksanaan tradisi, masyarakat menyiapkan makanan tradisional untuk mereka yang ikut membantu menarik batu. Pada momen, ini terlihat kebersamaan warga yang saling membantu menyediakan kebutuhan selama prosesi berlangsung. Kaum perempuan bertugas menyiapkan makanan dan minuman, sementara laki-lakinya menarik batu menuju lokasi makam adat.

Natan menambahkan tidak sedikit masyarakat dari kampung lain ikut membantu, meskipun tidak memiliki hubungan keluarga langsung. Hal ini menunjukkan kuatnya rasa solidaritas dan persaudaraan di tengah kehidupan Masyarakat Adat Sumba.

“Semangat gotong royong seperti ini mulai jarang ditemukan di tengah kehidupan modern saat ini,” kata Natan.

Natan menuturkan bagi Masyarakat Adat Sumba, makam batu memiliki makna yang sangat penting karena menjadi simbol penghormatan kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

“Semakin besar batu yang digunakan, semakin tinggi pula penghormatan yang diberikan kepada leluhur atau tokoh adat yang dimakamkan,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, proses tarik batu dilakukan dengan penuh penghormatan dan diiringi ritual adat tertentu.

Natan menjelaskan budaya megalitik di Sumba telah dikenal hingga mancanegara. Banyak peneliti budaya dan wisatawan dari mancanegara datang ke Sumba untuk mempelajari kehidupan Masyarakat Adat Sumba yang tetap menjaga tradisi leluhur mereka.

“Tradisi tarik batu ini diminati wisatawan karena dianggap sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi,” ujarnya.

Beberapa orang Masyarakat Adat Bodomaroto sedang menarik batu kubur ke atas kampung. Dokumentasi AMAN

Identitas Budaya Sumba

Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Sumba Debora Rambu Kasuatu berharap tradisi adat tarik batu terus dijaga karena menjadi bagian penting dari identitas budaya Sumba. Tradisi ini juga memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi generasi mendatang.

Dikatakannya, dengan tetap bertahannya tradisi tarik batu hingga saat ini, menandakan warisan budaya leluhur ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan juga bagian penting dari kehidupan sosial yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tradisi ini harus tetap lestari karena menjadi bagian penting dari identitas budaya Sumba,” tutupnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sumba, Nusa Tenggara Timur

Writer : Umbu Ch Nusa Mesa | Sumba, Nusa Tenggara Timur
Tag : Masyarakat Adat Sumba Tradisi Tarik Batu Kubur Simbol Solidaritas