Oleh Dirga Yandri Tandi

Empat komunitas Masyarakat Adat di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan siap bertindak sebagai tuan rumah Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VII yang akan berlangsung pada Maret  2027 mendatang.

Keempat komunitas Masyarakat Adat tersebut adalah Bittuang, Balla, Pali, dan Se'seng yang seluruhnya berada di Kecamatan Bittuang dan Kecamatan Masanda, Kebupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Keempat komunitas Masyarakat Adat ini telah ditetapkan menjadi lokasi KMAN VII dalam kombongan atau musyawarah yang digelar di Tongkonan Pattan Ulusalu, Kecamatan Saluputti, Kabupaten Tana Toraja beberapa waktu lalu. Musyawarah ini dihadiri perwakilan dari 32 komunitas Masyarakat Adat di Toraya.

Komunitas Adat Bitttuang

Komnunitas Masyarakat Adat Bittuang akan menjadi salah satu lokasi KMAN VII. Komunitas ini terletak di Kecamatan Bittuang yang berada di bagian barat Tana Toraja. Letaknya berada di dataran tinggi dengan udara sejuk. Secara administrasi, Kecamatan Bittuang terdiri dari 1 Kelurahan dan 14 Desa (Lembang).

Jarak dari Kota Makale, Ibukota Tana Toraja sekitar 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Bittuang memiliki adat budaya yang masih kental dan potensi sumber daya alam yang besar. Bittuang merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik.

Di tempat ini, masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat warisan leluhur, seperti upacara adat Rambu Solo' dan Rambu Tuka'. Struktuk kelembagaan adat di tempat ini dipimpin oleh Parengge' di tiap komunitas.

Bittuang juga memiliki potensi wisata yang sudah dikenal seperti air terjun Sarambu Assing yang terletak di Desa (Lembang) Patongloan. Tempat ini menawarkan suasana alami di tengah hutan pinus dan udara pegunungan yang sangat sejuk.

Kemudian, Sarambu Ratte di Desa (Lembang) Balla. Tempat ini menawarkan air terjun bersusun dengan nuansa alam yang sejuk.

Selain itu, di Bittuang juga terdapat beberapa objek wisata alam yang dapat ditemui seperti hutan pinus dan lainnya.

Dua orang pria sedang menikmati Sarambu Ratte atau air terjun yang menjadi salah satu potensi wisata di lokasi KMAN VII Toraya. Dokumentasi AMAN

Tempat Bersejarah

Di Bittuang juga memiliki salah satu tempat bersejarah yaitu kampung Nennen, terletak di Lembang (Desa) Le'tek, Kecamatan Bittuang. Kampung ini disebut kampung pertama di Kecamatan Bittuang.

Tempat ini memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perjuangan Topada Tindo, Misa Pangimpi pada masa penjajahan di Toraja.

Ditempat ini terdapat sejarah benteng pertahanan yang dinamakan 'Benteng Pertahanan Ledong' pada zaman gerembolang atau yang dikenal masyarakat sekitar zaman gurilla dan perang kecil antar masyarakat.

Ledong merupakan salah satu pejuang Topada Tindo, Tomisa Pangimpi (Persatuan Seia-sekata, dan satu cita-cita) yang berasal dari Bittuang. Topada Tindo dikenal dengan semboyan misa'kada dipotuo, pantan kada dipomata yang berarti bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Benteng Ledong ini di kelilingi jurang yang dalam, sehingga sangat sulit ditembus penjajah pada masa itu.

Menurut cerita masyarakat setempat, akses atau jalan menuju benteng pertahanan Ledong dulunya adalah lobang. Disini terdapat tiga lubang yang dibuat masyarakat secara maual.

Lubang pertama merupakan gerbang, lubang kedua merupakan tempat pemantauan dan lubang ketiga merupakan jalan menuju puncak perkampungan.

Tempat ini dikuasi Belanda sekitar tahun 1900 an, setelah rumah-rumah di Benteng Pertahanan Ledong dibakar oleh penjajah. Namun, jauh sebelum Belanda masuk di Bittuang bahkan di Indonesia secara umum, tempat ini sudah didiami Masyarakat Adat.

Ditempat ini masih terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti lobang, bangunan tongkonan tempo dulu (rumah adat) dan kuburan (liang lahat).

Liang lahat pada umumnya di Toraja yaitu batu yang di pahat. Namun berbeda di tempat ini, liang lahat disini bukan batu yang dipahat namun tanah yang berada di tebing benteng pertahanan Ledong yang digali. Disini terdapat puluhan liang lahat.

Selain itu, di tempat ini juga masih terdapat pohon yang di keramatkan yakni pohon beringin yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun. Biasa disebut masyarakat sekitar Lamba'. Pohon ini merupakan tempat menguburkan bayi yang meninggal saat lahir prematur, masyarakat sekitar menyebut "Pia dadi rara". Pohon ini tidak pernah mati, sebab kalau sudah tua pasti ada tunas penggantinya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Writer : Dirga Yandri Tandi | Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Tag : Masyarakat Adat Toraja Potret Komunitas KMAN VII