Oleh Redentus Deda Tore

Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur membutuhkan bantuan usai dihantam gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa besar yang  berpotensi tsunami ini menyebabkan sejumlah bangunan rumah dan fasilitas umum di beberapa komunitas adat mengalami kerusakan.

Sedikitnya ada enam komunitas adat di Nusa Tenggara Timur yang rusak akibat dihantam gempa yaitu  komunitas adat Lawi, Rendu, Saga, Ngkiong, Watumite, Nangahale. Kerusakan terparah terjadi di komunitas adat Rendu, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.  Sebanyak 115 kepala keluarga (kk) terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak dihantam gempa, 45 rumah diantaranya rusak berat dan 70 rumah lainnya mengalami rusak ringan. Selain merusak bangunan, gempa juga menyebabkan lima orang di komunitas adat Rendu mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis.

Hingga Senin (17/8/2026), sebagian besar warga masih bertahan di lokasi pengungsian darurat. Mereka mendirikan tenda-tenda sederhana menggunakan terpal di sekitar permukiman karena khawatir akan gempa susulan dan kondisi rumah yang tidak lagi aman untuk ditempati.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga bergotong royong membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga lima kepala keluarga dan mendirikan dapur bersama. Persediaan makanan yang ada dimanfaatkan secara bersama-sama sambil menunggu bantuan dari pemerintah maupun pihak lain.

Wilibrodus Be Yu, salah seorang korban gempa dari komunitas adat Rendu mengatakan hingga saat ini, belum ada bantuan yang tiba di lokasi pengungsian. Menurutnya, sejauh ini masyarakat masih bertahan dengan uang saku dan bahan makanan yang tersisa di rumah masing-masing.

“Untuk kebutuhan hidup sementara, masyarakat masih menggunakan uang saku dan bahan makanan yang masih tersedia. Sampai siang ini belum ada bantuan yang datang ke pengungsian,” kata Wilibrodus saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (17/8) siang.

Wilibrodus berharap bantuan segera tiba karena pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo terkait kebutuhan pengungsi. Ia khawatir jika dalam waktu dua hari ke depan tidak datang bantuan maka warga terdampak gempa dipastikan telah kehabisan stok bahan makanan.

”Semoga bantuan cepat datang, jangan menunggu kami kelaparan baru datang bantuannya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Feliks Mala selaku tokoh Masyarakat Adat Rendu. Ia menuturkan saat ini kebutuhan yang paling mendesak bagi pengungsi adalah air mineral, air bersih, bahan makanan, serta obat-obatan untuk mengatasi penyakit yang mulai muncul di lokasi pengungsian.

“Yang paling dibutuhkan pengungsi sekarang ini air minum, makanan, dan obat-obatan,” terangnya.

Feliks mengatakan banyak warga terdampak gempa yang mulai mengalami batuk dan pilek karena harus tidur di luar rumah sejak terjadi gempa. Ia berharap pemerintah segera mendirikan posko kesehatan di lokasi pengungsian.

”Posko kesehatan perlu segera didirikan karena pengungsi sudah mulai batuk pilek,” tutupnya.

Sejumlah korban gempa di Nusa Tenggara Timur sedang tidur di tenda yang mereka sendiri usai dilanda gempa 7,7 magnitudo pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Dokumentasi AMAN

BMKG Catat 1.598 Gempa Susulan

Gempa bumi tektonik Magnituto 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa yang menyebabkan guncangan kuat ini berpotensi tsunami. Namun pukul 07.30 Wib, BMKG mengakhiri peringatan dini Tsunami.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa bumi dangkal di kedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Berdasarkan hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di 30 km arah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengaku terus memantau gempa bumi susulan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) usai diguncang gempa 7,7 magnitudo pada Sabtu (15/8) kemarin.

"Sampai dengan jam 7 pagi hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2, yang terkecil 1,3," ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/8/2026).

Faisal mengatakan BMKG akan terus memantau terkait proses penurunan frekuensi dan kekuatan gempa susulan secara bertahap. Disebutnya, proses pemantauan ini akan dilakukan hingga 2-3 pekan ke depan. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur

Writer : Redentus Deda Tore | Nusa Tenggara Timur
Tag : Masyarakat Adat Nusa Tenggara Timur Membutuhkan Bantuan Gempa 7,7 Magnitudo