Konsolidasi Sekolah Adat Region Sulawesi : Gali, Rawat dan Wariskan
22 September 2026 Berita Dirga Yandri TandiOleh Dirga Y Tandi
Sekolah adat region Sulawesi menggelar konsolidasi di Tongkonan Pao, wilayah adat Nanggala, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada 15-16 September 2026.
Konsolidasi sekolah adat ini bagian dari komitmen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk terus memperkuat sektor pendidikan lewat sekolah adat di berbagai komunitas. Komitmen ini juga bagian dari upaya AMAN untuk memperkuat jaringan, menyamakan persepsi, sekaligus merumuskan strategi bersama dalam memajukan sekolah adat di tengah arus modernisasi.
Konsolidasi sekolah adat yang mengusung tema “Gali, Rawat, Wariskan" ini dihadiri 30 sekolah adat se-Sulawesi serta Pengurus Besar AMAN, Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Toraya Romba Marannu Sombolinggi dan tetua adat.
Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolonggi' menyatakan sekolah adat adalah wadah memperkuat keberadaan Masyarakat Adat.
"Sekolah adat adalah alat dan jalan, sekolah adat adalah cara kita memperkuat wilayah adat, memperkuat kampung, memperkuat organisasi, memperkuat gerakan Masyarakat Adat," kata Rukka dalam sambutannya secara daring pada pembukaan konsolidasi sekolah adat region Sulawesi pada Selasa, 15 September 2026.
Selain itu, imbuhnya, sekolah adat merupakan tempat mendokumentasikan seluruh sistem pengetahuan, sistem politik, sistem budaya, ekonomi dan sistem kepercayaan Masyarakat Adat dan kemudian dipelajari.
Rukka menegaskan sekolah adat wajib dipimpin oleh kampung terhubung dengan Ketua Adat, terhubung dengan perempuan adat, terhubung dengan seluruh unsur sosial politik di kampung.
Rukka juga mengingatkan sekolah adat harus tunduk pada musyawarah adat sebab dari musyawarah sekolah adat lahir.
“Sampai saat ini, sudah 30 sekolah adat di Sulawesi yang lahir dari musyawarah adat,” katanya dengan rasa bangga.
Rukka menerangkan sekolah adat adalah tempat untuk belajar tentang hidup leluhur kita. Kemudian, belajar bagaimana memperbaiki hubungan dengan alam, memperbaiki hubungan dengan leluhur dan memperbaiki hubungan dengan pencipta Tuhan Yang Maha Esa.
Rukka berharap sekolah adat di Sulawesi terus bertambah sebagai ruang merawat pengetahuan leluhur agar terus di wariskan dari generasi ke generasi.
"Kita semua berharap mudah-mudahan sekolah adat di Sulawesi terus bertambah, karena sekolah adat adalah kekuatan Masyarakat Adat,” tandasnya.

Pengurus sekolah adat region Sulawesi sedang photo bersama usai melakukan konsolidasi di wilayah adat Nanggala, Kabupaten Toraja Utara pada 15-16 September 2026. Dokumentasi AMAN
Merawat Nilai-Nilai Leluhur Melalui Sekolah Adat
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Toraya Romba Marannu Sombolinggi' menyatakan nila-niai luhur yang telah diwariskan leluhur harus terus dipelihara dan dirawat melalui sekolah adat.
"Ditangan kita lah generasi akan berlanjut, ditangan kita lah budaya akan lestari. Suatu bangsa akan hancur ketika ingatan sejarahnya hilang, ingatan itu tentang bagaimana leluhur kita dulu mengupayakan hal-hal masih kita lihat, rasakan dan lakukan saat ini," kata Romba.
"Jangan menangisi budayamu yang hilang. Ada masanya, ketika kita tidak mengupayakan sekarang, kita mau membalikkannya tetapi sudah sangat susah. Untuk itu, kita berupaya melalui sekolah adat supaya budaya kita tetap lestari, agar ingatan kolektif kita tidak hilang," sambungnya.
Romba mengajak seluruh peserta agar betul-betul menjalankan tanggung jawab dalam mengurus sekolah adat.
"Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi," pesannya.
Romba menjelaskan berbagai persolan yang dihadapi saat ini, khususnya di Toraya yaitu pergeseran nilai budaya. Menurutnya, pergeseran ini dipengaruhi beberapa faktor, termasuk pemisahan adat dan aluk (kepercayaan).
"Pemisahan adat dan aluk kemudian mencabut dari budaya kita, jadi adat berjalan seolah-olah tanpa roh. Pergeseran nilainya sangat luar biasa,” terangnya.
Romba menambahkan faktor lain, adanya regulasi Undang-Undang Desa Tahun 1979 yang mengambil peranan pemangku adat, dimana kepala desa adalah penguasa tunggal.
Staff Kedeputian IV PB AMAN Marolop Manalu menyatakan sekolah adat region Sulawesi baru pertama ini melakukan konsolidasi.
Dalam konsolidasi ini, para peserta saling berbagi pengalaman terkait tantangan dan keberhasilan pengelolaan sekolah adat di daerah masing-masing. Fokus utama mereka menyusun program berbasis kearifan lokal yang adaptif, sehingga generasi muda adat tidak kehilangan jati diri dan tetap mampu menjawab tantangan zaman.
Selain mematangkan konsep pendidikan berbasis adat, konsolidasi juga diisi dengan diskusi interaktif mengenai penguatan kelembagaan sekolah adat agar dapat berdiri secara mandiri dan berkelanjutan.
"Di pertemuan ini, kita menguatkan satu sama lain, kita mendalami prinsip yang menjadi koridor bersama ke depan," ujarnya sembari menambahkan sekolah adat di komunitas perlu didorong agar bisa berkembang, baik yang baru berinisiatif memulai maupun yang sudah terbentuk namun belum berjalan dengan maksimal. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Toraya, Sulawesi Selatan