Oleh : Fuji Jannah

Selain terkenal dengan kota dodol, Garut yang merupakan sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Barat juga cukup terkenal dengan kopinya. 

Berdasarkan hasil sensus pertanian oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kopi merupakan satu di antara tiga tanaman tahunan paling banyak diusahakan petani di Garut. Luas pohon kopi yang ditanam juga hampir menyaingi luas perkebunan teh di Kabupaten Garut.

Salah satu wilayah yang terdampak oleh perkembangan usaha tani kopi ini adalah Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi.

Desa ini ditempati oleh komunitas adat Batuwangi. Mereka “menyulap” desa ini menjadi ladang perkebunan kopi. Tak pelak, desa ini pun  menjadi magnet lapangan pekerjaan bagi beberapa orang pengurus Masyarakat Adat.

Kelompok tani Batuwangi sudah mulai memproduksi kopi sejak tahun 2020. Selama hampir 3 tahun, kelompok tani ini sudah memproduksi 2 jenis kopi yaitu Arabica dan Robusta. Adapun dari dua jenis kopi natural tersebut, terdapat dua jenis varian lain yaitu honey dan full wash.

Pembeda dari jenis varian tersebut adalah cara pengolahan sebelum proses penjemuran. Natural menjadi varian yang paling cepat dalam proses pengolahannya. Hal ini karena setelah di sortir dengan cara perambangan, varian ini langsung direndam selama 2 – 3 hari. Kemudian, di jemur beserta dengan kulitnya selama 3 – 4 minggu di cuaca panas.

Berbeda dengan Varian Fullwash dan Honey yang melalui proses pengupasan basah dan kering sebelum penjemuran, ditambah dengan lama waktu perendaman kopi yang lebih singkat dari variasi Natural.

Dibawah naungan BUMMA

Kegiatan usaha kopi yang dijalankan kelompok tani Batuwangi berada dibawah naungan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA). Ada 20 orang anggotanya, yang dibagi menjadi dua bagian yakni 10 orang menjadi pengurus dalam produksi dan pemasaran kopi, sementara 10 orang lainnya menjadi pengurus dalam produksi dan pemasaran gula semut.

Ketua BUMMA Simahiyang, Jajam Nurjaman menyatakan produksi kopi yang sudah berhasil dijual oleh kelompok tani ini sebanyak 10 – 30 kg kopi kering berbagai jenis dan varian per bulan. Dikatakannya, pemasaran kopinya bekerjasama dengan petani kopi lain. Sebab,  jumlah produksi kopi kelompok tani yang terkadang kurang dibandingkan dengan daya beli konsumen.

“Kelompok tani ini masih menggunakan media sosial sebagai sarana untuk memperluas pangsa pasar,” kata Jajam Nurjaman.

Ia menyebut kopi olahan kelompok tani ini djual dengan berbagai ukuran yang telah dikemas cantik. Harganya dijual sesuai ukuran, misalnya Rp 30.000 untuk 100gr.

Jajam menjelaskan kopi Garut punya ciri khas tersendiri. Aromanya sangat istimewa. Warna kopinya juga cenderung lebih hitam pekat.

“Soal rasa kopi Garut, jangan ditanya. Silahkan coba sendiri,” kata Jajam sembari menambahkan selain memproduksi kopi, BUMMA Simahiyang juga menerima produksi kekayaan alam lain seperti kapolaga, cengkeh dan bahan olahan lainnya seperti aneka keripik dan opak.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Simahiyang, Jawa Barat

Tag : Kopi Khas Garut BUMMA Simahiyang