Oleh Mohamad Hajazi

Sebanyak 20 tokoh Masyarakat Adat Sasak, berkumpul di Sekretariat Lembaga Krame Adat, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Para tokoh adat itu berasal dari kalangan pegiat budaya, penghayat budaya, tetua adat, dan pemangku adat. Pertemuan tersebut dalam rangka untuk menghadiri upacara yang kami namakan Sangkep Warige.

Bagi Masyarakat Adat Sasak, Sangkep Warige adalah pertemuan yang dilakukan untuk menentukan hari dan tanggal penyelenggaraan ritual Bau Nyale dengan mengaitkan semua kejadian alam berdasarkan ilmu astronomi tradisional yang dimiliki oleh Masyarakat Adat Sasak.

Nyale merupakan sejenis cacing laut yang menurut Masyarakat Adat Sasak, perwujudan dari seorang putri yang adil dan bijaksana. Namanya Putri Mandalike. 

Upacara Sangkep Warige diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran. Kemudian, dilanjutkan dengan tembang pembuka oleh Dita Putra. Setelah itu, masuk ke acara inti, yakni pemaparan tentang perjalanan waktu berdasarkan kajian bintang tenggale. Kajian astronomi tradisional itu selalu mengikuti garis khatulistiwa dan gejala-gejala alam di Pujut.

Kebenaran dari kajian itu, selanjutnya didaulat dan ditegaskan oleh para pemangku adat. Lalu, forum musyawarah Sangkep Warige akan menyepakati tanggal tersebut sebagai hari dan tanggal tumpahnya Bau Nyale pada 2022. Sangkep Warige pun ditutup dengan doa puji mulia oleh Kiyai Ratne.

L. Saladin, salah satu tokoh adat di Pujut, mengatakan bahwa Sangkep Warige selalu dilakukan oleh Masyarakat Adat Sasak, khususnya yang berada di Pujut sebagai wujud pelestarian budaya.

“Ini bagian dari eksistensi budaya leluhur yang telah jadi tradisi (Masyarakat Adat) Suku Bangsa Sasak,” katanya usai mengikuti upacara adat Sangkep Warige pada Kamis (6/1/2022).

Saladin menjelaskan kalau semua tokoh adat yang hadir dalam Sangkep Warige, memberikan argumen berdasarkan kajian perjalanan waktu atau - menurut sistem penanggalan tradisional bintang rowot - ketika bintang tenggale berada tegak lurus pada posisi kita yang berdiri di bumi. Saat itu, bertepatan dengan tanggal 19 atau 20 bulan sepuluh dalam kalendar Sasak.

Itu biasanya ditandai juga dengan kode alam berupa munculnya jamur di persawahan, mekarnya bunga kentalun, dan tumbuhnya rebung bambu. 

“Itulah yang menandai akan datangnya Bau Nyale,” ucap Saladin.

Saladin menerangkan bahwa berdasarkan kajian para tetua adat, Bau Nyale jatuh pada Minggu, 20 Februari 2022 sebagai hari bojak (mulai mencari) dan Senin, 21 Februari 2022 sebagai hari tumpahnya nyale.

Tokoh pemuda adat di Pujut, Lalu Kesuma Jayadi, mengatakan bahwa prosesi Sangkep Warige merupakan wujud kecintaan Masyarakat Adat terhadap tradisi dan budaya. Jayadi menyebut kalau semua unsur Masyarakat Adat, seperti tetua adat dan pemuda adat, terlibat dalam Sangkep Warige. Orang-orang tua dan muda turut urun rembuk dalam ritual menetapkan hari dan tanggal jatuhnya Bau Nyale.

“Keterlibatan pemuda dalam prosesi adat ini, sangat penting agar ilmu pengetahuan leluhur tidak terputus,” tandasnya.

Menurut Jayadi, pemuda adat harus berperan aktif dalam seluruh kegiatan tradisi dan budaya yang ada agar tidak punah. Jayadi mengatakan, tradisi budaya perlu terus dilestarikan sebagai bentuk jadi diri.

Sangkep Warige ini menjadi satu tradisi yang hingga kini terus dilestarikan dan menjadi rekomendasi bersama dalam pelaksanaan ritual adat Bau Nyale,” kata Jayadi.

***

Penulis adalah jurnalis rakyat dari NTB.

Tag : Bau Nyale Sangkep Warige Mohamad Hajazi Sasak